TEMBOK YANG ROBOH August 23, 2009
Posted by andreas29 in RENUNGAN.Tags: TEMBOK
trackback
AMSAL 25:28 “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.”
Kota-kota besar pada zaman dahulu selalu dikelilingi tembok tinggi. Sebab waktu itu berlaku hukum imperialisme, di mana satu negara bebas menguasai negara yang lain, atau sewaktu-waktu satu kota dapat menaklukkan kota yang lain. Jadi bahaya besar jika tembok atau pintu gerbang sebuah kota roboh atau jebol. Kota itu akan gampang dimasuki musuh, perampok-perampok atau binatang-binatang buas, dan akhirnya rakyatnya mengalami bencana demi bencana. Itulah nasib satu kota zaman dulu yang temboknya runtuh.
Dalam ayat di atas, oleh ilhaman Roh Kudus Salomo menulis tentang makna rohaninya bagi kita semua : orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Tembok benteng kota merupakan metafora dari pengendalian atau penguasaan diri (self-control) . Alkitab banyak mengingatkan kepada kita betapa pentingnya hal “mengendalikan diri”.
Saya akan sampaikan beberapa hal yang harus kita kendalikan dalam hidup ini :
1. Yakobus 3:1-12. Mengendalikan lidah/perkataan.
Manusia Tuhan ciptakan istimewa dengan kemampuan yang luar biasa, termasuk kemampuan lidah. Lidah itu kecil tetapi mampu menghasilkan kata-kata. Kata-kata atau ucapan manusia bisa memberkati orang tetapi juga bisa menyakiti bahkan membunuh, mengutuk.
Dalam Yakobus 3:2 ditulis : “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” Pengendalian seluruh tubuh bermula dari pengendalian lidah atau perkataan.
Tentang lidah dan pengaruhnya, Firman Tuhan (Yakobus 3:3-12) mengambil contoh-contoh yang sangat gamblang yang bisa kita lihat dalam hidup sehari-hari. Pertama, kekang pada mulut kuda. Kuda yang begitu besar, begitu kuat, sampai menjadi standar dunia dalam penghitungan kekuatan mesin (horse power), tetapi bisa dikendalikan dengan kekang. Kedua, kemudi pada kapal. Dengan kemudi yang kecil seluruh kapal bisa dikendalikan. Contoh ketiga, api. Api kalau dikendalikan bisa digunakan untuk memasak, membuat hawa panas, tetapi kalau tidak api kecil membakar hutan yang luas. Demikian juga kekuatan lidah, kekuatan perkataan. Ironisnya, lidah ini sulit dikendalikan. Yakobus mencatat, dengan lidah kita memuji Tuhan tetapi dengan lidah juga bisa mengutuk. Dari mulut yang satu kita bisa memberkati orang tetapi dari mulut itu juga bisa mengutuk orang. Begitu hebatnya kekuatan lidah atau perkataan. Tetapi siapa yang dapat mengendalikan lidah ia seperti kota yang kokoh temboknya. Dalam hidup sehari-hari tidak bisa tidak kita harus menggunakan banyak perkataan. Tetapi ucapan kita harus dikendalikan, kalau tidak maka hidup seperti kota yang roboh temboknya yakni sebuah hidup yang rawan bencana-bencana.
Firman Tuhan juga mengambil contoh tentang sumber air. Tidak mungkin satu sumber air mengeluarkan dua jenis air, air tawar atau air pahit. Juga mengambil contoh tentang pohon, tidak mungkin pohon ara mengeluarkan buah zaitun atau pohon zaitun mengeluarkan buah ara. Jadi betapa pentingnya faktor pengendalian diri ini.
2. I Korintus 7:1-9. Mengendalikan seks.
Pengendalian diri dalam soal seks, manusia harus kawin. Alkitab menjelaskan bahwa tidak ada hubungan seks tanpa perkawinan. Paulus tidak kawin dan menganjurkan orang-orang tidak kawin. Hal ini memang sepertinya berlawanan dengan Firman Tuhan dalam Kejadian 2:18 yang berbunyi : “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja….”. Waktu Hawa diberikan Tuhan, penduduk bumi baru satu orang yaitu Adam. Sedangkan waktu Paulus hidup, penduduk dunia ditaksir sudah mencapai 150 juta orang. Sekarang, penduduk dunia mencapai 7 miliar orang. Anjuran tidak kawin oleh Paulus bertujuan supaya seseorang lebih fokus dalam pelayanan, jadi tidak memikirkan kebutuhan rumah tangga yaitu keperluan anak dan istri. Tetapi karena soal seks, Paulus berkata harus kawin. Dalam ayat 7 dikatakan : “alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.” Kalau ada orang tidak kawin, merupakan karunia Allah. Orang yang menerima karunia Allah untuk tidak kawin musti bersyukur karena bisa lebih konsentrasi lagi melayani Tuhan. Tetapi kalau tidak bisa menguasai diri maka lebih baik kawin daripada hangus oleh hawa nafsu.
Sekarang soal seks begitu terbuka, bahkan ada pekerja seks yang terang-terangan untuk mencari uang. Tetapi seks hanya bisa terjadi dalam pernikahan. Terutama orang-orang muda Kristen harus memahami ayat ini. Bagi mereka yang sudah menikah, istri adalah milik suami dan suami adalah milik istri. (ayat 3).
3. Amsal 23:1-3. Mengendalikan nafsu makan.
Ayat ini sedikit unik, karena Firman Tuhan menyuruh kita menaruh pisau di leher manakala diperhadapkan dengan makanan lezat. Tetapi maksudnya adalah supaya kita mengendalikan diri dalam soal makanan. Sebab di tenggorokan kita ada kelenjar selera, sering kita tidak mampu mengendalikan diri dalam soal makanan. Terbukti, banyak penyakit ada hubungannya dengan makanan.
Sekarang sedang terjadi krisis keuangan global. Banyak orang panik, banyak pengusaha bangkrut, banyak perusahaan-perusaha an besar tutup,, tetapi di seluruh dunia termasuk di kota Medan restoran-restoran tetap tambah. Digenapilah Firman Allah bahwa di akhir zaman akan terjadi orang kawin dan mengawinkan, orang makan dan minum. Tetapi menarik, banyak rumah makan muncul, dan juga bertambah banyak rumah sakit – rumah sakit. Jadi kalau orang tidak mengendalikan diri dalam soal makanan, maka dari rumah makan akan pindah ke rumah sakit.
Firman Tuhan bukan hanya menganjurkan kita mengendalikan makanan tetapi juga berpuasa. Kalau kita bisa mengambil waktu untuk berpuasa dan berdoa maka berkat pasti semakin bertambah.
4. Efesus 5:18. Jangan mabuk!
Mabuk berarti tidak bisa mengendalikan diri. Ada yang mabuk alkohol, mabuk kerja, mabuk pangkat/jabatan, mabuk mengejar uang sehingga lupa ibadah, lupa keluarga, lupa Tuhan.
Mabuk juga berarti kecanduan. Kalau minum bir satu gelas, lalu besoknya ingin untuk minum lagi, itulah pengaruh dari alkohol. Alkohol membuat kita kecanduan. Rokok juga kalau diisap satu batang akan minta dua batang, besoknya mau lagi. Narkoba sama juga, pertama coba-coba satu pil, kemudian malah pakai suntikan. Alkitab berkata, jangan kamu mabuk tetapi hendaklah penuh dengan Roh. Janganlah kita terperangkap dengan kecanduan sesuatu karena itu bertentangan dengan kehendak Tuhan dan menimbulkan hawa nafsu.
Sebab itu Paulus berkata, hendaklah kamu penuh dengan Roh. Waktu hari Pentakosta, di kamar loteng Yerusalem, berkumpul 120 murid orang penuh dengan Roh Kudus kayak mabuk, tetapi bukan mabuk nafsu, tetapi mabuk Roh, penuh dengan Roh. Mereka berkata-kata dengan bahasa Roh, memuji Tuhan, memuliakan Tuhan, dan itu luar biasa baik !
Amsal 16:32 “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Orang yang dapat menguasai dirinya berarti lebih dari pemenang. Kita bukanlah orang yang kalah tetapi menjadi pemenang sebab Tuhan yang memberikan kemenangan.
Kalau kita berhasil menaklukkan lidah, mengendalikan seks, mengontrol nafsu makan dan tidak mabuk-mabuk maka kita bagaikan orang-orang pemenang yang berhasil merebut kota. Kita rebut kota Medan untuk kemuliaan Tuhan. Siapa yang bisa mengendalikan diri, dan penuh Roh, dia lebih dari pemenang.
Melebihi pemenang hanya terjadi oleh pekerjaan Roh. Galatia 5:22-25. Dipimpin Roh itulah yang membuat kita bisa menghasilkan penguasaan diri. Buah Roh yang pertama Kasih hingga yang ke sembilan yaitu penguasaan diri, hanya bisa terjadi oleh pekerjaan Roh Kudus. Tuhan memberkati!
(Ringkasan Khotbah Pdt. M.D. Wakkary, Minggu 26 Oktober 2008 – Ibadah ke-2)
http://andreas29.wordpress.com















Comments»
No comments yet — be the first.