jump to navigation

JAUHKAN KAKI DARI CPU March 23, 2009

Posted by andreas29 in TIPS.
Tags:
add a comment
Yah.. Ini sih jarang-jarang terjadi. Hitung – hitung
karma buruknya sedang berbuah atau mungkin Rumah atau
kantornya dekat dengan hutan kali yah, atau ada yang
iseng masukin ular di CPUnya. Waduh perlu penyelidikan
lebih lanjut tuh..
Penting.....!!!!Jauhkan Kaki dari CPU
Jauhkan Kaki dari CPU saat Musim Hujan. Udara menjadi
dingin dan lembab. Sebaiknya jauhkan Kaki Anda dari
CPU. Karena Pada udara yang lembab bisa timbul induksi
listrik yang tak diinginkan. Dan selain itu. siapa tau
karena dinginnya udara lalu di dalam CPU Anda,
Ada sesuatu yang tak Anda duga.
So.. Be Careful yaaaaaaaaaa..
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Ular.
Dan segala bentuk yang menyerupai Ular.
Emang senengnya nyari kehangatan.

http://andreas29.wordpress.com

HATI – HATI PADA DOKTER March 10, 2009

Posted by andreas29 in KESEHATAN.
Tags:
1 comment so far

Ini tulisan yang mungkin ‘aneh’, saya sebagai seorang  dokter justru meminta  rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu  mengenai ‘caveat venditor’ (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .
Ceritanya  begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam  berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak  masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari  saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya. Abang  saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu,  agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat,  nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di  UGD sudah ‘mencurigakan’ , karena saya nggak menyatakan bahwa  saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan / penjelasan & pertanyaan dari dokter &  perawat yang menurut saya ‘menggelikan’ . Pasien  pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil  trombositnya tetap sama, 82 ribu. Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah  mulai ‘ribut’ karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan  hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang  buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk  penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, & nggak  mengeluh perih sama sekali. Obat ini  disuntikkan ketika saya  ke mengantarkan sampel darah ke lab. Oleh dokter jaga diberi resep  untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter  penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi.  Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak  saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman  yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia

rekomendasikan, katanya  ‘bagus & pintar’, ditambah lagi dia dokter tetap di RS  tersebut,  jadi pagi-sore selalu ada di RS. Malamnya via telepon dokter  penyakit dalam beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya  lihat banyak yang ‘nggak nyambung’, jadi saya minta Abang untuk hanya  setujui sebagian yang masih rasional. Besoknya, saya datang agak siang,  dokter penyakit dalam sudah visite & nggak komentar apapun soal  pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus resep  ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep  tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang  yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual  apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak  perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya  banyak. Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan  DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata  nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep. Pas  saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya ‘obat suntiknya mana?’,  saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya  malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa  saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah  saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani suratrefusal  consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. Saya beritau saja  bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun  setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara  dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia  berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang ‘bengong’. Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah 2 dipakai, padahal kondisi  fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien  tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain. Saat dokter  penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong ’sakit ya?’,  ‘masih panas?’, ‘ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya’, visite nggak  sampai 3 menit saya hitung. Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani  Abang visite kembali & nggak komentar apapun soal penolakan membeli  obat yang dia resepkan. Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya  sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari  dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional.  Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak  diperlukan & dibuat ‘miskin’ untuk membeli obat-obat yang mahal  tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah ‘dibayar’ cukup  mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien sementara kadang  kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya untuk  menunggu dokter visite. Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien  harus ditunggui oleh saudaranya yang dokter supaya nggak dapat  pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi  berbagai macam obat yang nggak dia perlukan & jadi racun di  tubuhnya. Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain  yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah  satu kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter  penyakit dalamnya. Kalau ini nggak segera  dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternative atau berobat ke LN. Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga  untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati & kritis pada pengobatan  dokter. (rgds Billy)

http://andreas29.wordpress.com