KEMULIAAN NAK – KANAK February 26, 2009
Posted by andreas29 in ARTIKEL.Tags: ANAK
trackback
Masa kanak-kanak memang sayang untuk dilewati. Sifat seperti kanak-kanak (childlike) adalah mulia. Di masa inilah seabreg keutamaan ditemukan. Jika kita tidak salah menggosok-gosok bibit itu, tak pelak di kemudian hari akan memanen kemuliaan. Alangkah indahnya jika hal itu terjadi.
SEBAGAI nak-kanak, Ponari termasuk fenomenal. Orang kebanyakan percaya bahwa ia termasuk kategori Dhukun Tiban. Dahulu ketika dokter belum menjadi pemegang otoritas tunggal di bidang penyembuhan, profesi dhukun merupakan hal biasa. Dhukun Bayi, misalnya. Mereka bekerja seiring dengan profesi bidan. Sudah jutaan bayi yang dilahirkan atas jasa Dhukun Bayi.
Secara terminologik, istilah tiban dimaksudkan sebagai segala sesuatu yang bersifat dadakan. Seolah-olah mukjizat itu begitu saja turun dari langit (dadakan, kaya-kaya tiba saka langit).
Apa yang dialami oleh Ponari pun begitu. Ari (adik) yang mungkin dilahirkan di hari pasaran Pon tersebut awalnya tidak bermaksud menjadi penyembuh. Ia ingin seperti anak lain. Sehari-hari kegiatannya diisi dengan bermain. Dengan begitu yang dinikmati adalah suasana menyenangkan dan kebebasan luar biasa. Kemuliaan masa nak-kanak antara lain dicerminkan dengan perilaku polos.
Mungkin kepolosan inilah yang sudah tidak dimiliki lagi oleh orang dewasa. Termasuk bagi mereka yang kebetulan berprofesi sebagai petugas pelayanan kesehatan masyarakat. Ketika mereka melayani orang yang sedang sakit, data utama terpenting adalah latar belakang sosial ekonomik.
Ternyata, orang miskin yang sedang sakit amat sensitif dengan status itu. Bisa jadi mereka bertambah parah karena kebencian terhadap status miskin. Inikah penyebab lunturnya kepercayaan terhadap keahlian dokter dan paramedik? Mereka tidak lagi mendapatkan kemuliaan. Ketidaksetaraan status yang ditetapkan mulai menggerus, begitu berhadapan dengan pemegang otoritas di bidang kesehatan.
Dhukun Tiban tidak membedakan status sosial ekonomi pasiennya. Harga karcis sama. Tak ada kamar opname berkelas. Tak ada resep obat yang harus ditebus. Pelayanannya cepat. Ditambah dengan sugesti serta keyakinan menjadi sembuh, banyak yang merasa sembuh. Lalu apa yang salah jika seseorang merasa lebih sehat? Bukankah dengan begitu, pemerintah bisa ikut mengklaim keberhasilan dalam menyehatkan rakyatnya?
Ki Kemaki tidak mengkhawatirkan dampak negatif dari fenomena Dhukun Tiban. Namanya saja tiban. Ia pasti bersifat sementara. Jika saatnya datang, nanti akan tutup sendiri. Tanpa instruksi dari siapa pun, orang sakit tentu masih manusiawi ingin sembuh dengan cara yang paling dipercayai.
“Saya malah lebih khawatir terhadap perilaku childish daripada childlike,” katanya. Lho, apa bedanya? Seperti kanak-kanak (childlike) adalah perangai yang mulia, karena tidak membedakan sesama, berdasarkan status. Sedangkan kekanak-kanakan (childish) adalah perangai yang gampang tersinggung karena merasa tidak level statusnya. “Contohnya, kasus tersinggungnya anggota DPR-RI terhadap Direksi Pertamina,” kata Ki Kemaki.
Penyakit semacam ini tak mempan diobati, bahkan oleh Dhukun Tiban sekali pun. Penyakit tersebut masuk kategori infantilis. Mereka yang suka kekanak-kanakan tersebut masih gemar (maaf) menetek. Maksudnya (sekali lagi maaf), masih suka diberi asupan susu tante (sumbangan suka rela tanpa tekanan) atau gratifikasi.
***
Kemuliaan nak-kanak saat ini tenggelam oleh penyakit kekanak-kanakan. Maukah mereka antre berdesak-desakan agar sembuh diobati oleh Dhukun Tiban? Mangga, silakan berbeda pendapat.(surya.co.id)
http://andreas29.wordpress.com















Comments»
No comments yet — be the first.