jump to navigation

PERADILAN RAKYAT (2) November 30, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
add a comment

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. “Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya.”

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

“Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?”

“Antara lain.”

“Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku.”

Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.

“Jadi langkahku sudah benar?”

Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

“Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?”

“Tidak! Sama sekali tidak!”

“Bukan juga karena uang?!”

“Bukan!”

“Lalu karena apa?”

Pengacara muda itu tersenyum.

“Karena aku akan membelanya.”

“Supaya dia menang?”

“Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku.”

Pengacara tua termenung.

“Apa jawabanku salah?”

Orang tua itu menggeleng.

“Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang.”

“Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan.”

“Tapi kamu akan menang.” “Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang.”

“Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini.”

Pengacara muda itu tertawa kecil.

“Itu pujian atau peringatan?”

“Pujian.”

“Asal Anda jujur saja.”

“Aku jujur.”

“Betul?”

“Betul!”

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi. “Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?”

“Bukan! Kenapa mesti takut?!”

“Mereka tidak mengancam kamu?”

“Mengacam bagaimana?”

“Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?”

“Tidak.”

Pengacara tua itu terkejut.

“Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?”

“Tidak.”

“Wah! Itu tidak profesional!”

Pengacara muda itu tertawa.

“Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!”

“Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?”

Pengacara muda itu terdiam.

“Bagaimana kalau dia sampai menang?”

“Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!”

“Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?”

Pengacara muda itu tak menjawab.

“Berarti ya!”

“Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!”

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

“Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok.” “Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut.”

“Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?”

“Betul.” “Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional.”

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. “Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

“Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.” “Tapi…”

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda. “Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

“Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai.”

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

“Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,” rintihnya dengan amat sedih, “Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?”

(filmpendek.org)

http://andreas29.wordpress.com

PERADILAN RAKYAT (1) November 28, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
add a comment

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

“Tapi aku datang tidak sebagai putramu,” kata pengacara muda itu, “aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini.”

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

“Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?”

Pengacara muda tertegun. “Ayahanda bertanya kepadaku?”

“Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung

tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.”

Pengacara muda itu tersenyum.

“Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.”

“Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu.”

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri.”

Pengacara tua itu meringis.

“Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.”

“Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!”

Pengacara tua itu tertawa.

“Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!” potong pengacara tua.

Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

“Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,” sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, “jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini.”

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

“Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.” “Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.”

“Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini.”

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

“Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya.”

“Lalu kamu terima?” potong pengacara tua itu tiba-tiba.

Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.

“Bagaimana Anda tahu?”

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: “Sebab aku kenal siapa kamu.” (filmpendek.org)

http://andreas29.wordpress.com

PEMIMPIN (2) November 26, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
add a comment

Beberapa tahun kemudian, ketika cucu saya lulus SMA saya kembali bertanya-tanya. Saya cemas, karena di depannya sekarang terbentang banyak jalan yang harus dipilih dengan tepat. Salah pilih resikonya berat.

”Sebelum memastikan kamu mau melanjutkan ke mana, kamu harus tentukan dulu sebenarnya kamu mau jadi apa, Agus?”

Cucu saya yang sudah mulai pakai kumis menjawab tanpa ragu-ragu.

”Aku ingin jadi pemimpin.”

”Lho, itu kan cita-citamu yang dulu?”

”Memang!”

”Kenapa?”

”Sebab pemimpin itu punya banyak fasilitas yang tidak dimiliki orang biasa!”

”Fasilitas?”

”Ya! Kemudahan-kemudahan. Rumah, kendaraan, keamanan, kesejahteraan, semuanya dicukupi. Tidak perlu memikirkan apa-apa, semuanya sudah ada. Masak pemimpin naik angkot? Paling sedikit Mercy. Ngapain naik bus, pasti naik kapal terbang dan mesti kelas satu. Masak pemimpin ngontrak rumah, pasti rumah bertingkat dengan taman dan penjaga dan pengawalan kalau lagi jalan. Masak pemimpin makan nasi kucing, pasti steak sirloan. Masak pemimpin gajinya sama dengan tukang ojek, paling sedikit 45 juta satu bulan, belum lagi uang sidang dan berbagai fasilitas plus kemudahan lain. Belum lagi hadiah-hadiah, sumbangan, kado, bingkisan dari masyarakat dan para konglomerat yang mendukung,. Paling sedikit kunci mobil yang harganya 3 miliar.”

Saya tercengang.

”Lho kamu pikir pemimpin itu seperti itu?”

”Lebih dari itu, Kek!”

”Masak?”

”Ya! Lihat saja pemimpin-pemimpin itu. Pasti kaya. Mobilnya paling sedikit 5. Rumahnya di mana-mana. Padahal gajinya kecil. Berapa sih? Tapi kenapa bisa punya hotel, perkebunan, saham, pabrik, puluhan perusahaan?”

Saya mulai marah. Jelek-jelek saya juga pernah jadi pemimpin. Minimal saya menjabat RT selama 30 tahun di pemukiman kami dulu.

”Pemimpin itu tidak begitu!”

”Memang tidak! Pemimpin itu abdi masyarakat. Aturannya dia orang kelas dua, karena dia hanya mewakili rakyat. Wakil kan orang suruhan. Tapi kalau orang datang maksa-maksa ngasih kunci mobil, kunci rumah, ngasih duit segepok bahkan ngasih perempuan, bagaimana bisa menolak? Orang bisa tersinggung, terhina, marah kalau ditolak mentah-mentah. Jadi pemimpin harus bisa memuaskan hati rakyat. Bukan hanya rakyat yang memerlukan sandang-pangan, juga rakyat yang kelebihan dan ingin memberi. Ya kan, Kek?”

Saya mau membantah. Tiba-tiba cucu saya mengulurkan sebuah kotak kecil.

”Apa itu?”

”Hadiah buat ulang pernikahan Kakek dan Nenek. Agus beli dengan uang tabungan Agus sendiri.”

Cucu saya kemudian membuka kotak itu. Istri saya yang nyamperin ketika melihat cucunya mengulurkan sebuah kotak, menjerit.

”Berlian!”

”Ya. Ini kalung berlian untuk Nenek dan jam tangan untuk Kakek!”

Sebelum saya bisa menjawab, istri saya sudah langsung menyambut kotak itu dan memeluk cucunya. Lalu ia terbang ke tetangga untuk menyiarkan kebanggaannya mendapat hadiah berlian dari cucu, walaupun saya yakin berlian itu palsu.

”Kakek boleh menolak kalau berani,” kata Agus.

Saya tidak bisa menjawab. Saya mengerti apa yang hendak dikatakan oleh cucu saya. Bagaimana saya akan bisa menolak, kalau istri saya, neneknya itu, begitu bangga dengan pemberian itu.

Saya lupakan saja soal berlian itu. Kalau Agus memang mau jadi pemimpin, ya sudah jadiin saja. Saya mendukungnya. Siapa tahu dia akan menjadi pemimpin yang lain. Pemimpin yang berbeda dari pemimpin-pemimpin yang selama ini kita sesali.

Dengan sungguh-sungguh saya ikuti sepak terjang Agus dari jauh. Sekolahnya melaju dengan bagus. Akibat tempaan asrama yang ketat, dia menjadi gigih dan berdisiplin. Tidak jauh dari target yang sudah tersedia, dia bisa menyelesaikan pendidikan tingginya dengan baik. Tidak istimewa, tetapi dia lulus tepat pada waktunya.

Agus langsung bekerja. Di samping itu seperti juga orang tuanya, ia aktip berorganisasi. Dalam waktu yang pendek, karirnya menanjak. Kemudian dengan tidak terasa, ia mulai mendapat jabatan penting. Lalu akhirnya pegang pucuk pimpinan.

Agus yang nakal itu kini sudah jadi orang. Ia menikah dengan seorang bekas Ratu Dangdut. Kehidupan keluarganya serasi. Anaknya sudah dua. Namanya bagus. Masyakat mencintainya. Dia benar-benar memenuhi hasratnya untuk menjadi seorang pemimpin.

Itulah saatnya saya kembali bertanya. Lalu saya mencari kesempatan baik dan bicara dari hati ke hati.

”Agus,” kata saya dengan blak-blakan, ‘’sebagai lelaki dengan lelaki, Kakek ingin bicara terus-terang kepada kamu sekarang.”

”Apa yang bisa saya bantu, Kek?”

”Tidak. Kakek tidak minta dibantu. Kakek hanya mau bertanya. Sekarang kamu sudah jadi pemimpin.”

”Ya lebih kurang begitu kata orang.”

”Itu berarti kamu sudah mencapai cita-citamu.”

”Ya, bisa dikatakan begitu.”

”Jangan menjawab dengan: bisa dikatakan begitu. Yang tegas saja. Memang kamu sudah mencapai cita-citamu jadi pemimpin. Betul tidak?”

”Ya, betul tapi mungkin tidak seperti Kakek bayangkan.”

”Maksudmu?”

”Saya memang seorang pemimpin sekarang.”

”Dengan segala fasilitas dan kemudahan yang pernah kamu rindukan dulu kan?!”

Agus tersenyum.

”Betul.”

”Tidak ada yang memerintah kamu lagi. Karena kamulah yang memberikan perintah?!”

”Ya memang.”

”Kamu dapatkan banyak fasilitas yang tidak dimiliki oleh rakyat biasa. Orang antre mau beli karcis Java Jazz, nabung untuk beli karcis Lionel Richie, setumpukan karcis diantarkan kepada kamu dengan jemputan mobilnya sekalian. Betul?”

Agus ketawa.

”Betul.”

”Orang kepingin punya perusahaan untuk jaminan masa tua, tapi pengusaha malah datang kepada kamu dan minta kamu jadi Presdir perusahaan penerbangan baru. Betul?”

Agus mengangguk.

”Betul.”

Saya tertawa, karena si Agus cucu saya tidak bisa membantah. Saya juga bangga, sebab apa yang dilamunkannya sudah jadi kenyataan. Itu tidak akan terjadi kalau dia tidak ampuh dan hebat.

”Kakek bangga karena kamu tidak hanya mimpi dan melamun tapi bekerja nyata!”

Agus ketawa.

”Terima kasih, Kek. Memang betul apa yang Kakek bilang. Tapi terus-terang, cara Kakek melihat itu tidak adil.”

”Maksudmu?”

”Ya Kakek menceritakan semua itu seperti menceritakan tentang orang yang mendaki Gunung Himalaya, lalu menancapkan bendera di puncaknya.”

”Tapi memang begitu kan? Kamu seorang pendaki gunung yang sukses!”

Muka Agus tiba-tiba murung.

”Seorang pemimpin tidak sama dengan pendaki gunung yang sukses, Kek. Kelihatannya memang sama, tapi beda. Pendaki gunung setelah sukses tinggal menikmati prestasinya. Tapi seorang pemimpin?”

”Sama kan?”

”Tidak. Sesudah menjadi pemimpin, aku tidak bisa lagi menjadi Agus, cucu Kakek. Aku harus memimpin. Aku harus bertanggung jawab terhadap segala hal. Bahkan terhadap semua kekeliruan dan dosa-dosa orang lain yang menjadi tanggung jawabku. Aku harus mengurus banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan aku. Aku tidak punya hak untuk tertawa, tersenyum, apalagi tidur seperti manusia biasa. Aku sudah jadi mesin, robot, bulan-bulanan dan tong sampah. Ada ayam mati juga aku yang ditoleh dan ditanya kenapa? Ada orang kejepit juga aku yang disalahkan, sebab di puncak segala-galanya aku yang harus bertanggung jawab.”

Agus berhenti bicara dan menahan dirinya, sebab kelihatannya semua mau tumpah. Aku belum pernah melihat dia curhat dan menderita seperti itu.

”Aku sudah mati, Kek.”

Saya tercengang. Ketika ingin menjawab untuk menghiburnya, tiba-tiba HP dan telepon bunyi bareng. Agus cepat menggapai. Mukanya langsung pucat. Lalu ia berdiri.

”Maaf Kek, aku terpaksa pergi. Anak buahku ada yang tertangkap oleh KPK, kasus penyuapan uang negara puluhan miliar. Nanti kita lanjutkan!”

Saya tidak bisa bilang apa-apa. Tiba-tiba segala kebanggaan saya rontok. Hati saya terenyuh melihat cucu saya sudah dijadikan mayat seperti itu. Pasti itu kesalahan anak buahnya, tetapi kalau ada apa-apa dia yang akan diseret, karena dialah puncak yang tertinggi.

Di tempat tidur, saya sampaikan semua itu pada istri saya. Perempuan tua itu tak jadi ngorok. Matanya nyap-nyap sepanjang malam. Kami terkenang pada masa lalu. Teringat Agus yang nakal, tetapi ceria dan hidup. Kini cucu kami sudah begitu jauh di awang-awang dan menggelepar tak berdaya karena terikat oleh begitu banyak tanggung jawab.

”Kita tidak bisa membiarkan cucu kita mati,” kata istri saya.

”Ya. Untuk apa jadi pemimpin, kalau harus mati.”

”Kalau begitu suruh dia berhenti dan jadi orang biasa saja. Yang penting dalam hidup ini kan kebahagiaan. Buat apa mendapat fasilitas dan bisa memerintah kalau tidak bahagia?”

”Betul sekali!”

Kemudian saya mencari kesempatan yang tepat untuk bicara hati ke hati lagi dengan Agus. Lama sekali baru kesampaian. Walaupun dia cucu saya, tapi sejak jadi pemimpin, dia memang sudah seperti orang lain yang jaraknya ribuan kilometer.

”Agus, Kakek sudah berembuk dengan Nenek. Setelah kami pertimbangkan masak-masak, melihat keadaanmu serta mendengarkan semua penderitaan yang harus kamu tanggung sebagai pemimpin, kami mendesak, lebih baik kamu berhenti. Kami lebih senang kamu tetap hidup daripada menjadi pemimpin, tapi mati.”

Agus tersenyum.

”Terima kasih, Kek. Aku juga sudah berusaha, tapi tidak bisa.”

”Tidak bisa? Apa susahnya berhenti?”

”Tidak bisa, Kek.”

”Ah, jangan bilang, tidak ada yang tidak bisa mengganti. Lihat di sekitarmu, mereka antre seabrek-abrek bahkan gontok-gontokan untuk mengganti, kalau kamu mau mundur.”

”Itu betul.”

”Makanya berhenti saja!”

”Tidak bisa, Kek!”

”Kenapa?”

Agus tersenyum pahit.

”Kenapa?”

”Karena, meskipun mati, jadi pemimpin itu ternyata enak, Kek.” (jawapos.co.id)

http://andreas29.wordpress.com

PEMIMPIN (1) November 24, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
add a comment

Cemas karena anak-anak sekarang mulai apatis, tidak punya cita-cita, saya bertanya kepada cucu saya.

”Agus, nanti kalau sudah besar kau mau jadi apa?”

Cucu saya dengan tegas menjawab, ”Mau jadi pemimpin.”

Saya tertegun. Bangga karena penerus saya punya cita-cita besar. Perkara bisa kejadian atau hanya sekadar mengkhayal, tidak apa. Punya impian paling tidak membuat ada arah yang pasti di tengah kebingungan dunia yang edan ini.

”Jadi pemimpin?”

”Ya! Memang kenapa?”

”Tidak apa-apa. Semua cita-cita itu baik. Tapi kenapa kamu mau jadi pemimpin?”

Agus kontan menjawab seakan-akan pertanyaan itu sudah lama ditunggunya.

”Karena aku sudah bosan diperintah. Disuruh bangun pagi. Disuruh sekolah. Disuruh belajar. Disuruh nganterin pergi belanja. Disuruh ikut arisan. Disuruh nemenin kalau ada resepsi pernikahan. Disuruh jaga rumah. Disuruh anteng kalau ada tamu. Capek ah! Sekarang aku mau memerintah!”

”O jadi kamu pikir pemimpin itu tukang ngasih perintah?”

”Bukan tukang perintah doang, tukang larang juga! Tidak boleh begadang, tidak boleh keluar malam! Tidak boleh ngomong jorok! Tidak boleh main motor. Tidak boleh cemberut kalau ada tamu! Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh! Ini tidak boleh, itu tidak boleh, semuanya tidak boleh! Capek deh!”

”Itu artinya kamu mau bebas?!”

”Persis!”

Saya bengong.

”Kamu pikir pemimpin itu raja bebas?”

”Ya dong! Kalau tidak bebas itu bukan pemimpin.”

”Salah! Pemimpin itu justru orang yang paling tidak bebas. Buat seorang pemimpin tidak ada hari Minggu, tidak ada hari libur, semua hari adalah kerja!”

”Itu pemimpin yang goblok!”

”Agus … ”

”Kalau rakyat antre beli minyak tanah, pemimpin tinggal makan saja, yang masak kan rakyat. Masak pemimpin masak sendiri. Kalau rakyat tidak boleh masuk jalan bebas kendaraan bermotor, pemimpin bablas saja nggak ada yang berani larang. Kalau rakyat dibakar karena maling ayam, pemimpin yang makan uang rakyat triliunan diampuni dan dijadikan pahlawan. Kalau rakyat ketiduran waktu kerja dipecat, tapi pemimpin main SMS dan ngorok, yang selingkuh pada jam kerja, malah jadi selebriti! Masak Kakek tidak tahu?”

Saya mau menjawab tapi Agus langsung angkat tangan.

”Stop jangan ceramah, aku ada pekerjaan yang lebih penting!”

”Apa?”

Cucu saya langsung meloncat ke dekat TV. Sebab jam menunjukkan pukul 5. Itu jatahnya untuk main PS2 sampai pukul 6.

Saya hanya bisa mengurut dada. Berdebat dengan cucu tidak mungkin. Saya kira kunci konsleting itu pada orang tuanya. Anak saya dan mantu saya hampir tak pernah ada di rumah. Keduanya sibuk. Saya hampir tidak mengerti, apa gunanya rumah kalau mereka lebih banyak tidur di hotel karena ikut seminar dan rapat-rapat yang tidak satu pun yang tidak penting.

Saya kira mereka sudah jarang tidur bersama. Mungkin itu sebabnya Agus tidak punya adik lagi. Kalau sudah sampai di situ, saya tambah bingung. Pernikahan sekarang memang beda dengan zaman saya dulu. Dulu pernikahan adalah mencari teman tidur. Untuk berbagi suka-duka bersama. Sekarang perkawinan seperti mendirikan PT, untuk mengumpulkan duit.

Memang cucu saya jadi tidak kekurangan apa pun. Segala fasilitas yang dia butuhkan ada, karena penghasilan anak saya dan istrinya berkelebihan. Sekolah cucu saya juga lebih mahal dari sekolah kedokteran. Tapi begitulah, keduanya tidak pernah ada waktu mendampingi anaknya berkembang. Akibatnya cucu saya menderita kemiskinan jiwa.

Lalu saya minta waktu untuk bicara pada anak saya. Saya jelaskan bagaimana bahayanya membiarkan anak berkembang sendirian. Sekolah mahal, segala fasilitas melimpah, tidak cukup untuk menggantikan kasih-sayang yang hilang, karena anak tidak bisa tumbuh tanpa doping kasih-sayang orang tua.

”Kurangi sedikit aktivitas kalian. Beri waktu sedikit saja buat Agus,” kata saya.

Anak saya, juga mantu saya, paham apa yang saya katakan. Mereka kemudian mencoba untuk menyediakan waktu buat Agus. Tapi apa yang terjadi. Pertengkaran.

Agus merasa tersiksa. Gerak-geriknya yang diawasi dengan berbagai halangan, membuat dia senewen. Rumah dirasanya menjadi neraka. Orang tuanya juga kaget dan merasa Agus tidak mampu untuk mempergunakan kebebasan. Lalu Agus dimasukkan ke dalam asrama.

Sejak itu saya yang kehilangan. Buat lelaki tua yang tak punya rencana lagi, cucu adalah segala-galanya. Memiliki cucu lebih dari memiliki anak, kebahagiaannya bertumpuk. Kehadiran seorang cucu adalah jaminan dada lapang, karena tahu riwayat kita akan berkelanjutan, walaupun nanti kita sudah tak hadir lagi.

Saya mencoba untuk bertahan. Rasa sepi itu saya injak. Pagi hari, saya kehilangan burung yang menyanyi. Siang hari, berjam-jam waktu lambat berjalan, sehingga saya jadi kelimpungan. Tidur bosan. Nonton televisi menyebalkan. Ngobrol sama istri, nenek cucu saya, menjengkelkan. Semua omongannya sudah saya tahu, seperti juga sudah saya hapal seluruh lekuk tubuhnya termasuk jumlah tai lalatnya.

Malam hari saya tak bisa tidur. Saya coba jalan-jalan keluar rumah. Tapi baru satu kali, saya langsung masuk angin. Istri saya marah-marah dan menuduh saya sedang memasuki puber keempat. Nggak akan ada artis yang mau sama tua bangka seperti kamu lagi, biar pun duit kamu segepok, katanya, sehingga saya malu.

Akhirnya saya mulai menghibur diri dengan ngomong sendiri. Dan ini membuat saya dibawa ke seorang psikolog. Untung dokter lulusan Jerman itu pintar. Dia tidak memberikan nasehat supaya saya kawin lagi. Dia hanya minta cucu saya ditarik dari asrama. Karena dia menyimpulkan bahwa jiwa saya sudah terganggu kehilangan sebuah cahaya hati.

Tapi anak saya tidak peduli. Buat dia lebih penting anaknya aman. Saya, bapaknya, mungkin dianggap sepeda tua, karatan juga biarin saja. Cucu saya tetap di asrama. Hanya sebulan sekali boleh pulang untuk mengobati rindu saya. Apa boleh buat. Negosiasi yang tidak terlalu menguntungkan itu terpaksa saya terima juga.

Ketika cucu saya pulang pertama kali, saya limpahi dia dengan seluruh kerinduan. Saya berikan dia hadiah yang selalu dirindukannya, tapi tak pernah dikabulkan oleh orang tuanya. Sebuah motor balap.

Agus senang sekali. Dia memeluk saya, sehingga saya merasa hidup lagi. Dipeluk oleh cucu seribu kali lebih nikmat dari dipeluk oleh istri yang memeluk karena tugas. Agus langsung terbang ke sana-kemari dengan motor itu. Hati saya rasanya pecah karena melihat kegembiraannya. Rumah kembali nyaman. Dan saya ingin hari lebih panjang. Makanan yang selalu saya kutuk saya kecap. Tidur pun jadi asyik.

Tapi itu hanya satu hari. Motor cucu saya ditemukan ringsek diinjak truk. Untung truk itu sedang berhenti. Rupanya ada yang mencoba untuk meniru kelakuan jagoan dalam film yang nyerosot menerobos bawah truk sambil memiringkan kendaraannya.

”Untung Agus tidak apa-apa, hanya motornya saja yang hancur!” kata istri saya menyumpahi perbuatan saya yang dianggapnya sebagai dosa tak berampun itu.

Saya tidak bisa memberikan pembelaan. Meskipun yang mengendarai motor itu bukan Agus tapi kawannya. Artinya peristiwa itu tidak bisa dianggap sebagai kesalahan Agus. Juga tidak bisa dianggap sebagai contoh bahwa Agus memang tidak pantas naik motor. Contoh itu justru penting untuk menjelaskan pada Agus bahwa naik motor itu berbahaya bagi orang yang tidak terlatih. Jadi dia tidak akan naik motor karena dilarang, tapi karena memang dia mengerti dia tidak siap.

Sejak itu Agus tidak pulang lagi. Kalau liburan, orang tuanya menjemput. Lalu mereka keluar kota berlibur. Saya tidak diberi kesempatan dekat lagi dengan cucu karena dianggap berbahaya. Itu berlangsung cukup lama. Tapi untunglah saya tidak jadi gila karena itu. Karena perlahan-lahan kemudian saya mengalihkan perhatian saya pada istri saya.

”Ternyata manusia itu bukan besi tua, tapi tape yang makin matang makin menendang,” kata saya.

”Maksudmu siapa?”

”Kamu!”

Meskipun itu hanya rayuan gombal, ternyata istri saya senang. Dan itu memperbaiki hubungan kami menjadi segar lagi setelah bertahun-tahun terasa hambar. Aneh, meskipun dia sudah tua, tapi kalau diperhatikan sebenarnya dia masih menarik. Bahkan kemudian saya tahu bahwa dia masih tetap romantis. (jawapos.co.id)

http://andreas29.wordpress.com

OBAMABINLADEN November 22, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
1 comment so far

Osama dan Obama tidak punya kemiripan atau hubungan. Yang pertama adalah musuh nomor satu Amerika, yang kedua adalah calon presiden harapan Amerika Serikat.

Namanya mirip. Hanya beda satu kata. Kalau di Indonesia pasti diplesetkan menjadi Obama Bin Laden. Bukan sekadar kebetulan. Tapi sedikit-sedikit ada hubungannya. Karena Obama mempunyai darah campuran Timur Tengah. Kakeknya beragama Islam.

Trauma orang Amerika terhadap Islam ekstrem masih belum sembuh akibat pengeboman WTC 11 September 2001.

Makanya, apa yang berbau Islam masih dilirik dengan curiga. Obama pun sempat jadi sasaran kampanye negatif karena bau Islam itu. Masa kecilnya yang sempat dihabiskan di Indonesia juga jadi sasaran kampanye negatif yang menghubungkannya dengan Islam radikal.

Tapi terbukti akal sehat masih menang. Obama bisa menyisihkan Hillary Clinton dengan permainan yang bersih dan menarik. Pada masa-masa konvensi, keduanya bersaing sangat keras. Saling kecam saling serang terbuka. Tapi, begitu rakyat memilih Obama, Hillary menerimanya dengan hati besar, dan secara terbuka meminta pendukungnya untuk beralih mendukung Obama.

Wow, asyiknya demokrasi yang sudah dewasa seperti Amerika. Persaingan boleh sangat keras. Tapi begitu rakyat memutuskan pilihan, yang kalah dengan terbuka mengakui dan mengucapkan selamat.

Kita di Indonesia boleh ngiri karena hal sederhana ini tidak bisa dipraktikkan oleh para pemimpin kita. Sudah kalah hampir lima tahun yang lalu sampai sekarang masih tetap jotakan seperti anak kecil.

Tentu demokrasi Amerika tidak sempurna. Bahkan demokrasi di seluruh dunia tidak satu pun yang sempurna. Tetapi contoh ini seharusnya memberi inspirasi kepada kita.

Persaingan politik boleh sangat keras, tapi roda pemerintahan tetap berjalan normal. Bapak bangsa kita sezaman Soekarno dan angkatannya bisa mempraktikkan demokrasi itu dengan dewasa. Tetapi ternyata hal itu tidak terwarisi kepada generasi sekarang.

Hillary yang kalah tidak menuding Obama sebagai capres sontoloyo atau sebaliknya. Kabinet Bush juga tetap kompak tidak ada yang saling tuding dan saling curiga.

Pemilu Amerika akan digelar November. Tetapi kabinet tetap menjalankan programnya. Tidak ada menteri yang dituding sebagai menteri sontoloyo karena tidak setia kepada presiden.

Mereka yang tidak suka kepada Presiden Bush pasti menganggapnya lebih dari sekadar presiden sontoloyo. Tapi, hal itu tidak sampai memacetkan roda pemerintahan. Masa kepemimpinan Bush yang kedua tinggal beberapa bulan. Rakyat akan menghakimi apakah Bush dan Partai Republik dianggap sukses menjalankan amanah atau tidak.

Kalau Bush dianggap sukses, maka John McCain, capres Republik, akan dipilih kembali oleh rakyat. Tapi, kalau Bush sontoloyo, maka rakyat akan menghukumnya dengan memilih Barrack Obama yang menjadi wakil Partai Demokrat. Dan Bush pun layak digelari sebagai Presiden Sontoloyo!

Beberapa waktu yang lalu kita ribut gara-gara ada menteri sontoloyo di kabinet. Paling tidak begitulah menurut kepala BIN Syamsir Siregar. Karena Syamsir tidak mau tunjuk hidung, maka yang terjadi adalah saling curiga di antara sesama anggota kabinet.

Mestinya Syamsir memakai ilmu Gus Dur. Kalau tidak berani tunjuk hidung, sebut saja inisialnya. Beres.

Pemilu Indonesia masih tahun depan, tapi naga-naganya kerja kabibet akan amburadul karena banyak menteri yang siap-siap balik kandang ke partai masing-masing. Menteri begini ini yang sontoloyo.

Penyanyi Franky Sahilatua tidak mau kalah. Dalam sebuah acara mengenang tewasnya Maftuh Fauzi, mahasiswa Unas, Franky menyanyikan lagu ‘Ode untuk Maftuh’. Di situlah Franky menyebut ‘Presiden Sontoloyo’.

Tentu Franky bukan Syamsir. Franky adalah penyanyi balada yang konsen terhadap politik. Ia aktif dalam berbagai aksi dan diskusi politik. Ketika ia menyebut ‘presiden sontoloyo’, tentu sudah jelas siapa yang dituding Franky. Karena itu Franky tidak perlu menyebut inisial.

Franky adalah arek Suroboyo asli yang mungkin terbiasa dengan pisuhan khas Suraboyo. Tapi, kali ini, meski dia cukup memaki dengan ’sontoloyo’ tapi jelas sekali Franky marah.

Pasti masih menjadi perdebatan apakah presiden pantas disebut sontoloyo atau tidak. Menurut Franky sih presiden layak disebut sontoloyo karena gagal melindungi mahasiswa yang menjadi korban kekerasan dalam demonstrasi kenaikan BBM. Presiden dianggap sontoloyo karena tidak berhasil menyejahterakan rakyat.

Baiklah. Kalau memang presiden sontoloyo, nanti seluruh rakyat Indonesia yang akan menjadi hakimnya. Kalau memang dia tidak sontoloyo berarti tahun depan akan terpilih kembali. Tapi kalau dalam pemilu tahun depan dia tidak terpilih, berarti memang sontoloyo. Gitu saja kok repot. (surya.co.id)

http://andreas29.wordpress.com

MAYAT (2) November 20, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
add a comment

“Kamu mengerti?”

“Ya, saya mengerti sekali.”

“Kamu bisa merasakan?”

“Kenapa tidak? Jelas sekali.”

“Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?”

“Tidak. Itu memang benar.” Mayat itu menjadi amat girang menemukan untuk pertama kalinya orang yang mampu memahami segala tuntutannya.

“Jadi kamu percaya saya sekarang, betapa tidak adilnya semua ini?”

“Saya percaya.”

Mayat itu mengulurkan tangannya. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Keduanya berjabatan tangan, seperti orang yang mau bersekongkol. Tapi, tangan penjaga malam itu dingin sekali seperti beku. Mayat itu terkejut.

“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?

“Tidak.”

“Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?”

“Tidak.”

“Lalu, kenapa tanganmu lebih dingin dari es?”

“Ya, memang begini keadaannya.”

“Tapi, kenapa?”

“Karena inilah hidup saya.”

Mayat itu terkejut. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. Siapa tahu itu agen polisi. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor. Tetapi, ketika ia memandangi mata penjaga malam itu, ia hampir terpekik, karena di kedua mata itu nampak ruang kosong.

“Astaga, kamu tidak punya mata lagi?”

“Tidak.”

“Tapi, kenapa kamu masih bisa melihat?”

“Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.”

“Kenapa?”

“Karena itu kewajiban saya.”

Mayat itu bergidik. Buku kuduknya meremang.

“Apalagi kewajiban kamu?”

“Semuanya!”

Mayat itu tercengang.

“Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!”

“Ya, memang.”

“Apa? Kamu budak?”

“Betul. Saya budak.”

“Budak apa? Budak siapa?”

“Budak segala-galanya. Saya budak komplet.”

Mayat itu bingung. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga malam itu lebih cermat. Tak puas hanya melihat, ia lalu menyentuh, kemudian meraba-raba, selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. Tiba-tiba ia terpekik ngeri.

“Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Daging kamu bonyok!”

“Memang!”

“Bukan cuma itu. Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu … Maaf, boleh aku kobok sekali lagi?”

“Silakan.”

Mayat itu mendekat, lalu ngobok sekali lagi badan penjaga malam itu. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub.

“Ya Tuhan, kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak.”

“Memang begitu.”

“Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran? Edhan!”

“Ya. Jangankan perasaandan pikiran, apa pun saya tidak punya. Lihat, kemaluan juga tidak ada lagi. Maaf, ya … “

Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. Mayat itu menggigil dibuatnya. Orang itu memang sudah dikebiri total. Ia tak punya segala-galanya.

“Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Kamu tidak punya apa-apa.Kamu sudah kalah komplet. Apa kamu bukan manusia?”

“Saya manusia.”

“Apa kamu sakit?”

“Tidak.”

“Lha, kenapa kamu bisa hidup?”

“Ya, begitulah saya harus hidup meskipun tidak punya semua itu lagi.”

“Tidak mungkin!”

“Memang, tidak mungkin. Tetapi, apa boleh buat, wong ini harus kok. Ini kewajiban saya.”

Mayat itu berpikir keras, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Siapa sih sebenarnya kamu?”

“Boleh panggil saya siapa saja. Saya tidak milih-milih nama. Terserah orang, suka manggil saya apa saja. Silakan. Saya manut-manut saja.” “Itu namanya pasrah. Apa kamu orang Jawa?”

Penjaga malam itu berpikir.

“Nah sekarang kamu berpikir!”

“Saya memang telmi, telat mikir.”

“Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Gaji kamu berapa sih? Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. Berapa?”

“Tiga puluh.”

“Tiga puluh juta?”

“Bukan, tiga puluh saja.”

“Maksud kamu, gaji kamu seperak satu hari?”

“Ya!”

“Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji segitu?”

“Itu juga diangap sudah terlalu banyak. Bukan hanya saya yang harus hidup. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup.”

Mayat itu duduk kembali. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak sehari, dengan tanggungan istri dan sepuluh orang anak, bisa hidup. Pasti penjaga malam itu korupsi.

“Kamu pasti korupsi?”

“Tidak, Pak. Saya hanya jualin kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai.”

“Kalau begitu,kamu ngobyek!”

“Terserah, Pak.”

Mayat itu termenung. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. Memang, pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.

“Kamu luar biasa.” gumam mayat itu terpesona. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini.”

“Memang saya sudah mati.”

“Ah! Apa?”

“kata saya, saya sudah mati.”

“Kamu sudah mati?”

“Ya.”

“Jadi kamu ini mayat?”

“Betul sekali.”

“Mayat seperti gua ini?”

“Benar!”

“Wow! Kalau begitu, kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan, karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba, sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.

Tetapi sekali ini, penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.

“Ayo, salaman. Kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. Sekarang aku tahu masih ada orang lain. Sedikitnya, kita bisa berbagi kemalangan. Ayo salaman!”

Penjaga malam itu menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi, bukan kolusi. Jangan takut, tidak akan dituntut.”

“Tidak bisa. Saya tidak bisa salam. Jangan keliru.”

“Keliru bagaimana?”

“Saya bukan mayat seperti di situ.”

“Lho, tadi kamu bilang, kamu mayat.”

“Betul.”

“Tetapi bukan?”

“Betul sekali. Saya memang mayat, tetapi bukan.”

“Kenapa bukan?”

“Karena, meskipun saya mayat, tempat saya tidak di kuburan. Tetapi di kantor ini.”

“O, kalau begitu kamu hantu?”

“Boleh saja disebut begitu.”

Mayat itu berpikir.

“Kamu jangan main-main. Ini bukan waktuna untuk guyonan.” “Tidak. Sumpah, saya sungguh-sungguh. Boleh saja tidak percaya. Tidak apa. Saya sudah biasa tidak dipercaya. saya tidak tersinggung atau sakit hati. Dipercaya atau tidak, memang beginilah saya. Saya mayat yang harus hidup. Harus. Saya tidak boleh istirahat. Mati pun saya tetap harus bertugas.”

Mayat itu bengong.

“Jadi, kamu mayat hidup?”

“Ya, itu.”

“Kenapa kamu mau?”

“Kalau tidak, siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak mengunguntungkan dan menyakitkan ini? Baiklah, saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Ini juga sudah menyalahi aturan. Saya pasti akan kena hukuman. Selamat beristirahat. Kalau perlu apa-apa, jangan ragu-ragu memanggil saya. Saya tidak tidur. Mayat, kan, sudah tidak perlu tidur lagi. Saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu.”

Mayat itu terpesona.

“Ya Tuhan, kalau begitu, nasibku tidak terlalu jelek. Ada yang lebih jelek. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu,” desis mayat itu.

Ia mencuri-curi kesempatan untuk melirik ke sudut. Remang-remang dalam kegelapan, ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap.

“Kasihan…”

Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap. Dengan tergopoh-gopoh menghampiri.

“Maaf, memanggil saya? Perlu sesuatu?”

Mayat itu terkejut.

“O tidak, tidak, sudah cukup. Aku tidak perlu apa-apa lagi!”

Penjaga malam itu mengangguk, lalu kembali lagi ke tempatnya. Waktu itu mayat tersebut merasa malu hati. Diliriknya komputer yang sudah dipenuhi dengan tumpahan tuntutannya.

Setelah melihat nasib penjaga malam itu, apa yang dirasanya sebagai kesakitan seperti tidak ada artinya sama sekali. Ia merasa sudah terlalu cengeng.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal, mayat itu lalu kembali kepada komputer. Disertai penyesalan penuh, hanya dengan satu gerakan, ia menyentuh keyboard komputer untuk menghapus semua keluh kesahnya.

Tetapi apa daya, seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek, sama sekali tidak bisa dihapus lagi. Ia abadi. Mayat itu lalu mencoba mengalihkan pikirannya. Tetapi, apa yang barusan ia tulis seperti berbunyi dengan sendirinya. Ternyata begitu panjang tuntutan dan protesnya.

Kemudian ia merasa sangat malu. Begitu malunya, karena ia nampak begitu rakus kalau dibandingkan dengan penjaga malam itu. *** (Sriti.com)

http://andreas29.wordpress.com

MAYAT (1) November 18, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
add a comment

Sebuah mayat yang telah busuk keluar dari liangnya sambil mengheluh. “Aku yang mati. Aku yang terdera. Aku yang menjadi korban.Aku menderita. Aku yang sudah kesakitan. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Aku diberitakan, diperdebatkan, dipergunjingkan, diselidiki, dan dipakai sebagai contoh, sebagai obyek untuk berbagai menyelidikan, analisis-analisis, yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya.”"Aku sudah mencetak duit buat banyak orang, yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa dahsyat ini, sehingga mereka menjadi terkenal, terkemuka, memegang posisi puncak, dan akhirnya menang. Tetapi, aku sama sekali tak kebagian apa-apa. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. Ini sama sekali tidak adil!”

Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya, dan mulai menyusun protes. Ia menggugat perilaku semena-mena tersebut, yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia.”Peradaban sudah merosot. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran, tapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiannya.Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Semua orang berdagang.”"Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan, saling bergotong-royong, tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain.”"Kehidupan sudah rusak. Aku menginginkan pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan, serta segala manusia berikut isinya ini, kiamat kobra,” kata mayat itu.

Ia berdiri di pinggir jalan. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat, dengan berbagai keluhan, kemudian sindiran-sindiran, dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan.”Aku yang mati, kamu yang enak! Aku yang kejepit, kamu yang melejit. Kamu semua kelihatannya saja menangis, meringis, tapi sebetulnya kamu semua tertawa. Kamu terus hidup ngakak.”"Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. Air matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih, menciptakan esai-esai, elegi-elegi, balada-balada, dan orasi-orasi, yang meratapi dan menggugat kematianku. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!”

Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar, mengangkat bahu, dan menunjuk atasannya. Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu.

Akhirnya sekretaris redaksi terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Ia menhadapi mayat itu dengan senyum ramah. Sama-sama wanita, mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik.”Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. Kalau memang ada yang salah, meskipun kami sudah sangat berhati-hati, kami bersedia meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana,” katanya mempersilakan mayat itu menumpahkan semua sumpah serapahnya.Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Seperti bendungan ambrol, ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. Apa saja yang sudah menyakitkan, apa saja yang sudah menyinggung, semua yang tidak adil, seluruh ketidakbenaran, kesalahkaprahan, bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari, ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. Ia menguras seluruh dendam, luka, prasangka, dan kesakitannya.Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. Komputer penuh dengan kata-kata kotor. Dalam uraian mayat itu, dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. Moral, susila, tata krama,kapatutan, keluhuran budi, apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini, ternyata hanya sebuah koteka untuk membungkus kebiadaban.”Semuanya busuk,” erang mayat itu. Dan, setelah itu komputer tersebut sepertinya tak mampu lagi menampung semua kata-kata sumpah serapahnya. Ia terenyak di kursi ketika seluruh unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut, hati, dan otaknya. Seperti balon kempes, ia menggepeng di atas kursi. Nampak begitu lelah, namun damai.

Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya, menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Minuman panas, air dingin untuk penyegar. Mungkin juga makanan, semacam roti bakar yang masih bisa disambar dari perempatan jalan di malam selarut itu. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur.

Mayat itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Semua bentuk protes dalam pikirannya sudah tersalurkan. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi.Panjaga kantor itu mengerti. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif itu, yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa, ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Ia berdecak-decak kagum. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Ia menoleh pada penjaga malam, yang sudah lancang itu, dengan mata berkilat-kilat.

(Sriti.com)

http://andreas29.wordpress.com

JUST MONEY November 16, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
add a comment

Produk sepatu olahraga terkenal asal Amerika, Nike, punya motto yang sangat akrab dengan telinga kita, yaitu ‘Just Do It’. Motto ini sudah dipelesetkan menjadi ‘Just Duit’ alias ‘yang penting uang’.Motto itu ditemukan secara tidak sengaja pada 1988. Dalam sebuah pertemuan para agen penjualan Nike, seorang agen mengatakan kekagumannya terhadap budaya kerja di lingkungan Nike yang selalu siap bersaing dan melakukan apa saja.

Agen itu berkata, ‘you guys just do it’. Kalimat ‘Just Do It’ itulah yang kemudian ditangkap menjadi jargon utama iklan sampai sekarang. Efeknya luar biasa. Nike menjadi ‘agama baru’ bagi penggemar sepatu olahraga.

Penjualan tertinggi mencapai USD 92 miliar pada 1997. Sampai sekarang jargon itu menjadi mantra yang kesaktiannya tidak tertandingi oleh produk sepatu olahraga lainnya. Reebok yang sempat menjadi pesaing Nike sekarang bertekuk lutut gara-gara mantra itu.

* * *

Di sini, di Indonesia, mantra itu menjadi ‘aji-aji’ yang paling sakti. Mantra ‘Just Duit’ alias ‘yang penting uang’ tampaknya bisa menyelesaikan apa saja di negeri kita ini. Materialisme sudah mengambil alih idealisme. Urusan apa saja akan beres asal ada ‘Do It’. Tidak ada yang mustahil, tidak ada yang tidak mungkin kalau ada ‘Do It’.

Mulai dari urusan birokrasi yang paling kecil sampai urusan perizinan butuh Do It . Mulai mengurus KTP sampai menguburkan orang mati butuh Do It.Mengikuti pemilihan bupati, wali kota, gubernur, sampai presiden mustahil sukses tanpa Do it. Salah satu kosa kata politik yang paling popular sekarang ini adalah ‘money politics’. Setiap orang, mulai yang di warung kopi sampai kafe mewah, fasih berbicara mengenai isu itu.Money politics–atau sebaiknya diganti menjadi ‘Do It Politics’–adalah ‘uba rampe’ wajib yang harus disetor kalau ingin sukses dalam persaingan politik.

Sebuah survei yang dilakukan lembaga riset Jakarta terhadap masyarakat Jawa Timur menunjukkan hasil yang–bisa jadi mengagetkan atau menggelikan. Survey itu dilakukan untuk mengukur seberapa permisif orang Jawa Timur terhadap isu uang dalam politik. Hasilnya, lebih dari 60 persen responden mengatakan bahwa mereka akan menerima money politics untuk menentukan pilihan politik.Persentase ini merupakan yang tertinggi di Indonesia. Artinya, orang Jawa Timur lebih pragmatis dalam menentukan pilihan politiknya. Kalau ada uang dari seorang kandidat mereka akan memilih. Kalau tidak ada uang, mereka pilih tidak memilih alias golput.Ini kabar baik sekaligus kabar buruk bagi calon gubernur yang akan bersaing di babak perpanjangan waktu setelah lebaran nanti.Ini juga kabar baik atau kabar buruk bagi calon legislatif yang berebut kursi dari daerah pemilihan Jawa Timur tahun depan. Kalau punya ‘Do It’ Anda boleh tersenyum cerah. Sebaliknya, kalau tidak punya ‘Do It’ lebih baik ‘Forget It’.Kita tidak perlu meratapi diri melihat perkembangan ini. Barangkali sudah menjadi nasib kita bangsa Indonesia. Jalan demokrasi yang harus kita tempuh harus melewati etape ini sebelum sampai pada bentuk yang ideal.Upaya kita untuk membersihkan birokrasi dan parpol dari praktik korupsi, tampaknya, juga harus melewati jalan panjang nan berliku entah kapan sampai ke ujungnya.Untuk sementara ini kita harus hidup dengan kenyataan ini. Tidak ada satu pun sisi dalam hidup ini yang bebas dari uang. Semuanya harus serba uang; ‘Just Do It’.

* * *

Sepulang sekolah, anak saya yang masih berkeringat setelah mengikuti pendidikan jasman memberi teka-teki kepada saya; apa artinya ‘pendidikan jasmani’. Saya jawab: pendidikan untuk melatih fisik supaya sehat. ‘Salah’, jawab anak saya.Lalu? Anak saya menjawab: Pendidikan jasmani artinya ‘pendidikan Just Money’, serba uang, serba bayar, tidak ada yang murah, apalagi gratis. Semua doyan uang. Oalah. (Surya.co.id)

http://andreas29.wordpress.com


MAFIA TERAKHIR November 14, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
add a comment

Kejahatan terorganisasi menggerogoti Amerika Serikat dan rasanya sangat sulit untuk diberantas. Tapi pada 1987-an muncul seorang Donnie Brasco yang berhasil menyusup dan menghancurkan organisasi itu.

Ia diangkat sebagai anggota keluarga Bonnano, salah satu di antara lima keluarga penjahat terbesar di Amerika.

Untuk bisa diangkat sebagai anggota keluarga mafia Brasco harus menunjukkan reputasinya sebagai penjahat andal. Kebetulan ia keturunan Italia dan fasih berbahasa Italia. Ia memulai karis kejahatannya sebagai pencuri perhiasan. Reputasinya kemudian semakin terkenal di kalangan mafia dan ia pun diangkat sebagai bagian dari keluarga mafia.

Organisasi ini dikendalikan sebagai sebuah organisasi keluarga turun-temurun. Pemimpin tertinggi, Sang Don, diangkat karena reputasi kejahatannya yang paling hebat. Kata-katanya tidak boleh dibantah dan perintahnya menjadi hukum. Tidak ada sanksi bagi anggota yang melawannya kecuali mati.Organisasi mafia ini melakukan kejahatan mulai dari pencurian mobil, pembajakan truk, perdagangan narkoba, perjudian, pelacuran, pencucian uang sampai sindikat pemalsuan saham.

Joey Massino adalah Sang Don (lahir 1943), raja mafia paling ditakuti sepuluh tahun terakhir ini. Dialah pemimpin tertinggi keluarga mafia ‘Bonnano’ yang mengendalikan bisnis ilegal di seluruh Amerika. Ia mengendalikan organisasi ini dengan tangan dingin. Ia memerintahkan pembunuhan terhadap mereka yang berkhianat tanpa meninggalkan jejak.Rapi dan fanatik membuat organisasi mafia ini sulit ditembus. Lalu muncul Donnie Brasco. Dia seorang agen FBI (biro penyelidik federal) dengan nama asli Joseph Pistone. Ia berhasil menyusup selama enam tahun ke tubuh mafia dan memulai proses pembongkaran terbesar dalam sejarah pemberantasan kejahatan terorganisasi.Ia kemudian membongkar semua kejahatan keluarga mafia Bonnano kepada polisi. Penggerebekan besar-besaran terjadi dan puluhan anggota top mafia tertangkap dan dipenjara. Salah satu tangkapan terbesar adalah Joey Massino yang tidak lain adalah bos Donnie Brasco sendiri selama menjadi mafia.

Ketika Brasco membuka kedoknya sebagai agen FBI dunia mafia di Amerika gempar. Belum pernah ada dalam sejarah seorang agen bisa menyusup enam tahun tanpa ketahuan. Massino bos tertinggi mafia itu tidak berkutik di pengadilan. Ia dituduh memberikan perintah pembunuhan sebanyak 7 kali. Ia menjalankan bisnis cuci uang, pemalsuan saham, pemerasan, dan memerintahkan pembakaran rumah musuh-musuhnya.

Pada 2004 dia diancam hukuman mati kecuali dia mau membongkar semua jaringan kejahatannya sendiri. Masinno menyerah dan membongkar jaringannya sendiri supaya terhindar dari hukuman mati.Ia dijatuhi hukuman seumur hidup karena di pengadilan mau membongkar semua jaringan keluarga mafianya sendiri. Inilah akhir dari kisah mafia di Amerika. Oleh media, Massino dijuluki sebagai ‘Raja Mafia Terakhir’ alias The Last Don.

Dia telah meruntuhkan tradisi mafia yang sudah berlangsung seabad yang melarang seorang mafia membongkar informasi jaringannya sendiri. Setelah itu, kejahatan terorganisasi di Amerika tidak dengan sendirinya hilang. Tetapi dengan jatuhnya Sang Mafia Terkakhir tingkat kejahatan terorganisasi di Amerika menurun sangat drastis.

* * *

Indonesia terancam menjadi negara yang dikuasai oleh mafia kejahatan terorganisasi. Indikasi ke arah itu sudah semakin jelas. Mungkin bukan mafia model Amerika, tetapi bentuk yang lain yaitu kejahatan korupsi terorganisasi yang sulit dilacak dan dibongkar. Mafia kejahatan korupsi di Indonesia sudah sangat rapi dan luas jaringannya. Tida ada satu pun lembaga yang tidak ditembus oleh mafia korupsi yang terorganisasi.Kejaksaan Agung pun sudah keropos digasak mafia korupsi. Yang terbaru adalah pengadilan anggota DPR yang dituduh menerima aliran dana dari BI. Ternyata Hamka Yandhu tidak sendirian. Ia bersaksi bahwa sedikitnya 25 anggota DPR telah menerima suap Rp 250 juta sampai Rp 1 miliar. Di dalamnya termasuk dua menteri Paskah Suzetta dan MS Kaban.

Suap dan praktik korupsi seperti itu dianggap sesuatu yang biasa. Memberi suap untuk mencari dukungan dianggap sebagai bagian dari politik. Nyaris tidak ada yang kalis dari suap. Partai politik, lembaga agama, organisasi massa, organisasi wartawan, semua sudah tergerogoti suap dan korupsi.Benteng keadilan seperti pengadilan dan kejaksaan sudah disusupi korupsi. Lembaga eksekutif dan legislatif sudah rusak oleh korupsi. Bahkan, organisasi wartawan yang mestinya bisa menjadi ‘benteng terakhir moralitas’ juga sudah keropos oleh suap dan korupsi.

* * *

Kita perlu mempunyai seorang atau beberapa Donnie Brasco yang bisa menyusup ke tempat-tempat vital itu untuk membongkar habis praktik suap dan korupsi. Mudah-mudahan Hamka Yandhu bisa berperan sebagai Joey Massino yang bisa membongkar kejahatan di DPR.Yandhu tidak akan menjadi The Last Don. Tapi dia bisa menjadi ‘The First Last Don’ yang menjadi awal terbongkarnya jaringan mafia korupsi di negeri ini. Siapa tahu?*

(Surya.co.id)

http://andreas29.wordpress.com

JAM KARET & JAMDIPSUS November 12, 2008

Posted by andreas29 in ARTIKEL.
Tags:
add a comment

Jam di Indonesia tidak bisa dipercaya karena ‘terkenal’ suka molor. Makanya hanya di Indonesia ada istilah ‘jam karet’. Tapi, sekarang ada ‘jam’ lain yang juga ikut ‘tercemar’. Apa itu? Bahasa Indonesia tidak mempunyai kosa kata yang cukup untuk membedakan ‘terkenal’ karena positif (dalam bahasa Inggris ‘famous’) atau terkenal karena negatif yang dalam bahasa Inggris disebut ‘notorious’.Dalam bahasa Indonesia, terkenal karena prestasi yang hebat dan terkenal karena ‘prestasi’ korupsi, sama-sama disebut terkenal.Baru belakangan muncul pelesetan ‘tercemar’ untuk membedakan yang positif dan negatif.

Setelah mengikuti berita korupsi yang melibatkan jaksa di Kejaksaan Agung, mungkin orang makin tidak percaya lagi kepada ‘jam’ Indonesia. Yang satu ini bukan jam dinding, jam tangan, atau ‘jam karet’ tapi ‘Jaksa Agung Muda’ yang juga biasa disingkat JAM. Jam ini adalah level kedua tertinggi di jajaran para pendekar penegak hukum di Kejaksaan Agung.

* * *

Pengadilan terhadap Jaksa Urip Tri Gunawan–yang tertangkap basah oleh KPK menerima suap sekitar Rp 6 miliar–mengungkap kisah hitam yang mengerikan sekaligus menggelikan. Beberapa orang ‘jam’ ternyata mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan seorang wanita bernama Artalyta Suryani alias Ayin yang telah menyuap Jaksa Urip.Seorang ‘jam’ dikabarkan punya hubungan yang sangat akrab dengan Ayin sehingga dia melapor kepada Ayin bahwa tugasnya untuk mengamankan Sjamsul Nursalim telah dituntaskan. Kejaksaan telah menghentikan kasus BLBI Sjamsul triliunan rupiah dan sang konglomerat boleh melenggang.Masyarakat yang gemes dengan hubungan itu akhirnya bereaksi dengan caranya sendiri. Entah siapa yang usil. Entah siapa yang kreatif, ternyata percakapan lewat ponsel antara Ayin dengan Pak Jam itu beredar luas sebagai ringtone di ponsel.

Biasanya, ringtone atau nada sambung diisi lagu-lagu. Namanya juga ringtone. Tapi, belakangan makin banyak orang yang kreatif sampai-sampai percakapan rahasia seperti itu pun menjadi ringtone, dan lucunya, ternyata laris.

Kalau Anda mendengar dialog di ringtone itu Anda bisa tertawa geli, bisa juga tersenyum kecut dan masam, sambil menyumpah serapah atau misuh-misuh. Masak, seorang ‘jam’ kok ngomong begitu kepada seorang Ayin, seperti seorang pegawai melapor kepada atasannya.Bahasa dan nada bicara kedua orang itu sungguh membuat kita ‘3G’ alias gemes, geli, geregetan. Beberapa saat setelah KPK menangkap Jaksa Urip, Kejaksaan Agung bergerak capat dengan menangkap Ayin. Perdebatan antara KPK dan Kejaksaan Agung sekarang meruncing. Pertanyaan yang beredar, mengapa KPK hanya menangkap Urip dan membiarkan Ayin bebas. Atas alasan itulah Kejaksaan cepat-cepat menangkap Ayin.Kalau Anda mendengarkan ringtone itu akan ketahuan betapa baik hatinya aparat hukum kita. Masak, mau menangkap orang kok menelepon dulu via ponsel dan memberitahukan bahwa akan ada penangkapan, ‘nyuwun sewu, mohon izin, saya mau menangkap panjenengan

Saling tuding Kejaksaan dengan KPK makin panas. Kejaksaan bilang Ayin ditangkap biar adil. Wong yang menerima suap ditangkap kok yang nyuap tidak ditangkap. Maka Kejaksaan pun meringkus Ayin setelah memberitahunya via ponsel.KPK mungkin punya dalih beda. Ayin dibiarkan bebas dulu sambil ponselnya disadap, untuk mengungkap siapa saja orang-orang top di negeri ini yang dihubungi via ponselnya. Dari situ nanti akan ketahuan sehebat apa jaringan wanita ini. Sayang dia keburu ditangkap.Andai saja dia dibiarkan bebas beberapa hari lagi, mungkin akan makin banyak pejabat top yang dia kontak, dan kita penggemar ponsel murah ini akan mendapatkan ringtone yang lebih menarik dibanding yang sudah beredar sekarang ini.

Tapi sayang drama ini putus di tengah jalan. Pak Jam yang bersangkutan rupanya gerah percakapan rahasianya beredar menjadi ringtone. Tapi, mau apa lagi. Masyarakat sudah tidak tahu harus berbuat apa melihat permainan hukum level tinggi ini. Salah satu cara protes ya dengan mengedarkan ringtone itu.Saya usul, sebaiknya Pak Jam mengikhlaskan sajalah pembicaraannya itu diedarkan menjadi konsumsi umum.Mereka yang mengedarkan mungkin mendapat untung kecil-kecilan dari bisnis itu. Lumayanlah sekadar rezeki kecil di tengah kondisi hidup yang serba sulit.

* * *

Kondisi seperti sekarang segala hal menjadi susah. Bisnis sulit karena harga-harga merangsek naik. Mereka yang dagang pada mengeluh akibat kondisi ini. Salah satu dagang yang masih gampang dan laris adalah ‘dagang perkara’. Lalu, ‘toko perkara’ ada dimana? Tahu sendirilah ! (Surya.co.id)

http://andreas29.wordpress.com